Dalam pendakian ke puncak, tantangan terberat justru ketika turun dari puncak. Karena kondisi tubuh sudah mulai lelah dan fokus mulai menurun. Kekurangan asupan makan dan (terutama) air khususnya saat pendakian akan menyebabkan potensi terkena dehidrasi dan mountain sickness (penyakit di ketinggian/ gunung) yg dpt menimbulkan gangguan konsentrasi, kekuatan dan kesehatan
 |
| Di Puncak Mahameru (3.676 m); Chieq, Rudi, Sarah dan Riana, 28 Mei 2014. Photo by Galih |
 |
Foto bersama di depan Penginapan Pak Tasrip, sebelum memulai pendakian
|
Pagi itu, Senin, 26 Mei 2014, perjalanan dimulai dari Losmen Pak Tasrip pk 10.15 setelah menyelesaikan urusan administrasi, porter dan logistic yang kesiangan tiba di lokasi. Di perjalanan, kami temui tempat penyewaan perlengkapan pendakian
 |
| Warung Langit |
Tim kami terdiri dari Sarah, Riana, Chieq, Ichien, Anggi, Galih dan saya. Mayoritas adalah anggota Mapala UI (kecuali Galih dan Anggi) yang saat ini sudah berkeluarga dan sudah berusia di atas 40 an tahun. Kebanyakan dari kami,masing - masing sudah dikarunia 2-3 orang anak. Dalam perjalanan ini kami dibantu teman-teman dari Dimpa, Malang
Jarak tempuh dan waktu yang diperlukan secara umum dalam Pendakian G. Semeru hingga puncaknya, diperlukan waktu 10,5 jam dan dapat dilihat dalam bagan berikut. Namun dari pengalaman saya, waktu tersebut adalah untuk para pendaki yang memang sudah berpengalaman dan memiliki kondisi kebugaran yang prima. Lazimnya bagi pendaki yang juga ingin menikmati pemandangan selama perjalanan, hari pertama bermalam di Ranukumbolo setelah perjalanan 4-5 jam dari Ranu Pane. Dan keesokan harinya dilanjutkan hingga Kalimati atau Arcopodo sebelum pada diniharinya menuju Puncak Mahameru
 |
| Kabut masih menyelimuti Ranupani (2.100 m) ketika kami tiba pk 10.30 |
 |
| Tiba di gerbang menuju G. Semeru pk. 10.28 |
Gunung Semeru atau
Sumeru adalah
gunung berapi tertinggi di
Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko.
Posisi gunung ini terletak di antara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06'
LS dan 120°55'
BT.
 |
| Pos 1. Landengan Dowo (2.300 m), pk. 11.05 |
Setelah menempuh jarak 3 km dari Ranupani, kami tiba di Pos 1 Landengan Dowo pada pk. 11.05. Cukup lama kami istirahat di sini, karena beberapa teman sudah cukup lama tidak melakukan aktifitas pendakian gunung. Setelah menyantap beberapa potong coklat dan snack yang kami bawa. Pk. 12.30 baru melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya. Trek yang kami lalui masih relative datar dengan cuaca yang cukup hangat.
 |
Di Landengan Dowo ini, kita masih bisa mendapatkan sinyal telepon seluler,
dari berbagai operator ponsel.
|
Pendakian "selfie" ini - karena lebih banyak foto-fotonya dibanding jalannya -, dilanjutkankan dengan menempuh jarak 2 km dari Landengan Dowo, sebelum tiba di Pos 2. Watu Rejeng pada pk. 13.20. Normalnya jarak ini dapat ditempuh dalam waktu 30 menit
 |
| Pos 2. Watu Rejeng (2.350 m). Pk. 13.20 |
Sebelum tiba di Pos 3, kita akan menemui jembatan "Jembatan Merah", yang posisi dan situasinya menggoda kami untuk berfoto ria
 |
| Galih mendadak jadi "mat Kodak" |
Setelah kurang lebih 1 jam, sejak pendakian dari Watu Rejeng, kami tiba di Pos 3. Dari sini ujian "sebenarnya" dari perjalanan menuju Ranu Kumbolo baru dimulai, karena akan melewati "Tanjakan Bakri" yang lumayan melelahkan. Kalau di trek sepeda RA/ Golden Mountain, Puncak Pass, mungkin seperti melalui bagian / rute "ngehe 1" :)
 |
| Pos 3. Pk. 14.23 |
Pk. 15.00, kami tiba di dataran tertinggi dalam perjalanan dari Pos 3 ke Ranu Kumbolo. Pemandangan indah ini memancing kami yang sudah kesekian kalinya mendaki Semeru untuk kembali tidak bosan-bosannya mengabadikan suasana yang sulit dilewati ini. Terlebih buat pendaki yang baru pertama kali melihat Ranu Kumbolo, rasanya sulit untuk tidak berlama - lama berfoto ria di sini... :)
 |
| Memandang Ranu Kumbolo membuat hati teduh dan terasa damai |
 |
| Indahnya Ranu Kumbolo. Photo by Chieq |
 |
| Ranu Kumbolo (2.400 m). Pk. 16.40 |
 |
| Bersama Ichien, salah satu senior pencinta alam Indonesia. Photo by Anggi |
 |
| sunset di Ranu Kumbolo dengan kombinasi tampilan warna merah, biru, orange, jingga dan ungu menampakkan kekuatan "magis" nya. |
Perlu waktu 35 menit buat kami untuk mengitari punggungan dari dataran tinggi saat pertama kali memandang Ranu Kumbolo, untuk kemudian tiba di areal danau seluas 15 ha. Kalau ditotal waktu tempuh dari Ranupani sampai ke Ranu Kumbolo, maka kami memerlukan waktu 6 jam 30 menit! :) untuk jarak sekitar 10 km. Dari mulai elevasi 2.100 m hingga 2.400 m.
Saat itu, sudah tiba banyak sekali pendaki dari berbagai wilayah Indonesia yang berkumpul di Ranu Kumbolo. Terlebih di minggu itu saat kami mendaki, ada 2 hari libur nasional; Selasa, 27 Mei 2014 sebagai peringatan hari Maulud Nabi Muhammad SAW., dan Kamis, 29 Mei 2014 sebagai hari peringatan Kenaikan Yesus Kristus. Jadi cuti 3 hari bisa dapat libur 9 hari!
Sebenarnya kegiatan pendakian Semeru ini "hanyalah" bonus sekaligus memanfatkan "hari libur kejepit nasional". Karena agenda utama adalah menghadiri undangan pernikahan Reyza dan Dian, salah satu rekan yang baru kami kenal setahun lalu
 |
| Rezya dan Dian dalam resepsi pernikahan Minggu, 25 Mei 2014 |
Seakan "tak mau rugi". Saya dan Galih (rekan kerja di BP Merak), memanfaatkan waktu di Sabtu, 24 Mei 2014 untuk menjajal trek Cangar, Malang. Jadilah perjalanan kami di Mei lalu sebagai "3 in 1"; kondangan, gowes dan naik gunung :)
 |
| Jadi "4 in 1", sekaligus memperingati 7 tahun usia CBC (Cihuni Bike Community) - kelompok komunitas sepeda Cihuni, Cijantra-Tangerang, sebuah komunitas sepeda yang ada di "belakang" rumah saya |
 |
| Cuaca cerah dan sejuk menyambut kami di dataran tinggi dengan latar belakang daerah/ lokasi wisata legendaris; Selekta, Malang |
 |
| Galih, melewati teduhnya hutan jati dan pinus di trek Cangar |
 |
| Lumayan harus gantian dengan sepeda naik orang :) |
Ramainya Ranu Kumbolo saat itu selain adanya 2 "harpitnas" juga karena kawaan Taman Nasional Semeru-Bromo, khususnya pendakian Semeru, baru dibuka kembali untuk perawatan dan cuaca / iklim yang kurang "bersahabat" selama lebih dari 3 bulan. Jalur pendakian saat itu mulai dibuka kembali sejak 5 Mei 2014, berbarengan dengan penetapan tarif masuk kawaan TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) yang naik lebih dari 3x lipat! :)
 |
| Ranu Kumbolo dipadati para pendaki di awal musim |
 |
| Shakira jadi "selebriti" dadakan, diminta foto sama om dan tante di Ranu Kumbolo; 11 Mei 2013 |
Pengunjung TNBTS harus merogoh dompet lebih dalam untuk bisa
memasuki kawasan ini. Jika dulu wisatawan domestik dikenai tarif masuk sebesar
Rp 10 ribu, kini naik menjadi Rp 37.500 saat week days. Sementara saat
hari libur tiket masuk naik dari Rp 37.500 menjadi Rp 67.500.
Sedangkan
untuk wisatawan mancanegara, tarifnya berubah dari Rp 72.500 menjadi Rp 267.500
pada hari kerja. Saat hari libur tarifnya menjadi Rp 640 ribu. Tarif baru
menyesuaikan PP Nomor 12 Tahun 2014 tentang Jenis dan Tarif Atas Penerimaan
Negara Bukan Pajak (PNBP) Sektor Kehutanan.
 |
| Kawasan TNBTS. photo by Antara |
Berikut Peta Wisata dan Jalur Pendakian yang dikutip dari situs TNBTS;
Setelah bermalam di kesyahduan Ranu Kumbolo, esok harinya kami berangkat menuju Kalimati pk. 08.15 dengan melalui "Tanjakan Cinta". Tanjakan cukup untuk pemanasan di awal perjalanan. Konon diceritakan apabila sepasang kekasih dapat melalui Tanjakan Cinta ini tanpa menatap ke belakang, maka hubungan pasangan tersebut akan abadi.... :) Cerita ini semakin popuer dengan adanya sinema "5 cm" lalu. Saya pun menemui beberapa pasang muda-mudi yang mendaki Tanjakan Cinta ini dengan bergandengan tangan dan berusaha untuk tidak menatap ke belakang. Gimana menatap ke belakang, kalau sedang "ngos-ngosan"gitu? :)
 |
| Berpose di atas Tanjakan Cinta dengan latar belakang Ranu Kumbolo. Pk. 08.38 |
 |
| Hamparan bunga Lavender di Oro Oro Ombo, akan kita temui setelah melewati Tanjakan Cinta. Oro Oro Ombo berada pada ketinggian 2.500 m. |
 |
| Cemoro Kandang (2.500 m). Pk. 09.47 dicapai setelah Tanjakan Cinta dan berfoto-foto sekitar 30 menit di hamparan bunga lavender Oro Oro Ombo. Jarak dari Ranu Kumbolo ke Cemoro Kandang, kurang lebih dapat ditempuh setelah melalui 2,5 km perjalanan. |
 |
| Kalau dihadapkan dengan situasi dan alam yang asri, sepertinya rasa lelah selama perjalanan, langsung hilang, berganti dengan keceriaan dan kembali..... foto-foto :) |
 |
| Trek menuju Kalimati cukup datar, melewati hutan pinus dan savanna. Cuaca masih hangat dan matahari saat itu cukup terik |
 |
| Jambangan (2.600 m). Pk. 11.29. Ditempuh dalam jarak 3 km dari Cemoro Kandang |
 |
| Setelah sejenak melalui Jambangan, pada pk. 11.32 barulah kami dapat kembali menatap keanggunan puncak Mahameru |
 |
| Kalimati (2.700 m). Pk. 11.58 |
Cuaca masih terus hangat dan bersahabat, mengiringi perjalanan kami menuju Kalimati. Menjalang tengah hari, kami tiba di lokasi yang banyak dijadikan para pendaki untuk beristirahat sebelum dini harinya melakukan pendakian ke puncak Mahameru. Tempat ini berupa padang rumput luas yang dikelilingi dengan hutan pinus. Terdapat sumbber mata air di tempat ini, namun lokasi cukup jauh, menyusuri Kalimati dan paling tidak memerlukan waktu 1 jam pp utk mendapatkan air dari mata air di sini.
Cukup jauhnya lokasi sumber mata air satu-satunya sebelum ke puncak ini, menimbulkan ide bisnis dari masyarakat setempat dengan menjual air dalam kemasan botol air mineral, yang dihargai Rp 10.000,- per botol :)
Cukup lama kami menghabiskan waktu di sini. Mulai dari makan siang, bobo-bobo siang dan pastinya "sedikit" foto-foto :) Baru pk. 14.30 kami melanjutkan perjalanan ke Arcopodo.
 |
| Perjalanan menuju Arcopodo dari Kalimati |
Pendakian ke puncak perlu didampingi leader/ guide dan porter atau pendaki yg berpengalaman mendaki puncak Semeru dan memahami kondisi terkini. Trek dari Kalimati ke puncak lumayan berat, ditambah rute/ trek menuju Arcopodo sdh berubah/ rusak/ putus dan berpotensi salah ambil jalur. Terutama krn pendakian ke puncak dilakukan dini hari dg visibiliti dan jarak pandang terbatas. Trek ke puncak berupa kerikil dan pasir dengan elevasi antara 30-40 derajat. Sehingga dibutuhkan kekuatan, daya tahan dan kesabaran saat menambah ketinggian. Seringkali melangkah utkmendaki 2 langkah, tp mundur (turun) 1 langkah :)
Dalam pendakian ke puncak, tantangan terberat justru ketika turun dari puncak. Karena kondisi tubuh sudah mulai lelah, fokus mulai menurun. Di sisi lain trek turun (di area sekitar Cemara Tunggal dulu) sdh tdk terlihat tanda2 trek yg jelas dan berpotensi salah ambil jalur/ nyasar. Tour Leader/ guide/ porter dan strategi berjalan/ mendaki secara kelompok diyakini bisa meminimalisir potensi salah jalur dan bs saling mengingatkan/ membantu.
Disarankan utk membawa water bladder dan minum air putih yg cukup (min 1,5 ltr) saat ke puncak, krn dlm cuaca dingin cenderung tdk punya hasrat utk minum, sementara tubuh butuh minimal 1,5 - 2 liter sehari, terlebih utk aktifitas berat. Kekurangan asupan makan dan (terutama) air khususnya saat pendakian akan menyebabkan potensi terkena dehidrasi dan mountain sickness (penyakit di ketinggian/ gunung) yg dpt menimbulkan gangguan konsentrasi, kekuatan dan kesehatan
 |
| Usaha kembali ke trek Arcopodo - Kelik yang punggungannya sudah terputus |
 |
| Bersama keluarga di Arcopodo (2.900 m) Gn. Semeru 8-12 Mei 2013; Yenny, Cinta (5 th), Najma (10 th) dan Shakira (3 th). Keceriaan ini bisa berubah bencana apabila perjalanan tidak dipersiapkan dengan baik |
Pada pendakian Mei 2014 lalu, kami tiba di daerah sedikit di atas Arcopodo pada pk. 17.30 setelah melewati jalan memutari Arcopodo, karena trek awal ke Arcopodo sudah putus dan terpaksa "salah jalan" dan melewati tebing / jurang yang cukup terjal... Lumayan buat hati deg..deg an, bawa 3 istri orang :). Dalam hati, gimana pertanggung jawaban ke suami mereka nih, kalau "salah jalan" nya keterusan? :) Masih untung porter - porter kami menjemput dan membantu kami menaiki tebing yang cukup aduhay :)
Untuk mengantisipasi padatnya trek menuju puncak karena banyaknya para pendaki saat itu, kami memutuskan untuk bermalam dan "colong start) dari Kelik, daerah sedikit di atas Arcopodo. Kami memulai pendakian pada pk. 00.00 tepat saat "Cinderella" keluar dari kamarnya :) . Termasuk antisipasi kekuatan dan kecepatan langkah teman-teman yang sudah "brojol" 2 kali itu, ditambah usia yang sudah memulai (melampaui) masa kehidupan (live begin at forty) :)
 |
| Trek pasir / kerikil menuju puncak Mahameru |
Alhamdulillah, akhirnya semua anggota tim tiba di puncak Mahameru pada sekitar pk. 07.00 setelah berjuang selama 7 jam, dari Kelik / Arcopodo!
 |
| Di puncak Mahameru (3.676 m); Sarah, Chieq, Riana dan Galih |
========================================================================
 |
| Najma (10 th), anak pertama saya di Puncak Mahameru pada 10 Mei 2013 |
 |
| Yenny, ibunya anak-anak di Puncak Mahameru pada 10 Mei 2013 |
 |
| Cinta (5 th) dalam upayanya menuju puncak dengan bantuan porter :) |
 |
| Bersama Shakira (3 th) di Kalimati, setelah turun dari puncak tanggal 10 Mei 2013. Photo by Endah |
=========================================================================
Equipment Check-List
GENERAL CHECKLIST
- Fleece jacket or pullover
- Waterproof shell jacket (preferably breathable fabric)
- Lightweight thermal gloves
- Underwear (4)
- Shorts (2)
- Lightweight cotton long trousers/pants
- Light and expedition weight thermal bottoms
- Sun hat or scarf
- Warm fleece hat or light balaclava
- T-shirts (2)
- Thin, lightweight (inner socks) (4)
- Sunglasses with UV protection
- Sleeping bag rated to 0 degrees (3/4 season) : recommend
to bring by your own
- Head lamp (eg Petzl) spare bulbs & batteries
- Basic First Aid Kit (see First Aid Medicine below)
- Plastic bags - for keeping items dry inside trek bag
- Daypack (35-40 litres/2500-3000 cubic inches)
- Water bottles (for minimum 1.000 ml)
- Toiletries and trash bag
- Small wash towel
- Footwear appropriate to the trip
- Waterproof shell trousers/pants (preferably breathable fabric)
TREKKING CHECKLIST
In addition to the items listed in
our general checklist you will need to take the following on your trekking
trip:
-
Heavyweight gloves or mittens with a waterproof shell outer
- Down vest and/or jacket (optional)
- Fleece or wool trousers/pants
- Trekking/Hiking boots with spare laces
- Thick, warm wool hiking socks (4)
- Footwear for around camp, eg running shoes and/or sandals
- Gaiters
- Telescopic trekking/ski poles (optional)