Friday, October 17, 2014

Badai di Himalaya

Alhamdulilah teman2 senior Mapala UI selamat semua. Tp msh ada 3 rekan pendaki dari Indonesia yg msh blm ketemu. Informasi dari Agung Sutiastoro yg saat ini sdh tiba di Pokhara, sebuah desa di kawasan Annapurna, Nepal.

Semoga segera diketemukan tim SAR dan selamat. Amiin.
http://news.detik.com/read/2014/10/17/080418/2721314/10/ini-10-nama-wni-yang-dievakuasi-dari-badai-salju-di-himalaya-nepal

Ini 10 Nama WNI yang Dievakuasi dari Badai Salju di Himalaya Nepal (sumber: detikNews)

Ramdhan Muhaimin - detikNews

Jakarta - Badai salju menerjang dataran tinggi di pegunungan Himalaya, Nepal. Sejumlah warga negara Indonesia diketahui ikut menjadi korban dalam musibah itu. 10 WNI berhasil dievakuasi.

"Sampai saat ini ada 10 orang yang dievakuasi. Mereka betul-betul terkena, tapi semua selamat," ujar Sekretaris I KBRI Dakha, Bangladesh, Didik J Zulhadji saat dikonfirmasi, Jumat (17/10/2014).

Didik mengatakan kesepuluh WNI tersebut sudh berhasil dievakuasi dari ketinggian 5.300 mdpl ke kota Pokhara di Nepal. Menurut Didik, para korban yang selamat mengalami luka-luka dan shok akibat bencana badai tersebut.

"Kami belum bisa mendapatkan informasi lebih lengkap lagi, karena mereka masih shok sepertinya," jelas Didik.

Berikut 10 nama WNI yang berhasil dievakuasi:

1. Nizar Suhendra

2. Ade Rahmat

3. Agung Sutiastoro

4. Ari Nugroho

5. Adi Seno

6. Manogari Siahaan

7. Agus Radjani

8. Gabriel Tri

9. Paido Panggabean

10. Unggul Rahadjo

Ribuan pendaki berkunjung ke wilayah Annapurna setiap Oktober, ketika cuaca biasanya sangat bersahabat untuk aktivitas pendakian. Namun pekan ini, distrik Mustang dilanda hujan salju lebat sebagai dampak dari topan Hudhud, yang melanda pantai timur India sejak pekan lalu dan menewaskan lebih dari 20 orang.

Disebutkan total ada 168 orang yang mendaftar untuk mendaki di distrik Mustang, Annapurna pekan ini. Mereka mendaftar sebelum badai salju melanda pada Selasa

(14/10). Sebagian besar merupakan pendaki dari luar Nepal.

Sejauh ini, ada 4 jasad warga Kanada, dua warga Israel, satu warga asal Pole (etnis Polandia), satu warga Vietnam, satu warga India, satu warga Jerman dan 11 warga Nepal yang ditemukan. Sedangkan sisanya masih belum diketahui asal negaranya. Tim pencari dan penyelamat masih melakukan pencarian terhadap para korban.

Wednesday, October 15, 2014

Najma's creation

So proud.., sawing my daughter's painting on "Bale Bale" - BP Indonesia magazine on September 2014

She was describe some important activities in the country; Indonesian Independence day, Eidul Fitri (lebaran) and chaimpaign on President Election at TV

Tuesday, September 9, 2014

SeFo - RIDE AND HIKE


Berawal ketika Pak Dharmawan mengajak saya join dalam komunitas SeFo (Senang Foto), sebuah komunitas penggowes yang cukup aktif dan luar biasa semangatnya , walau terdiri dari tidak saja penggowes muda, namun juga para penggowes yang sudah melewati kepala 5!

Setelah mempelajari program Ride and Bike, saya memutuskan untuk tidak mendaki puncak Mahameru, pada perjalanan ke Semeru - Bromo kali ini yang berlangsung sejak 4 hingga 7 September 2014. Alasannya sederhana karena saya "baru" saja mendaki puncak Mahameru pada Mei 2014 lalu. Selain itu, program Ride and Hike yang dibeberkan Pak Dhar, buat saya - dan juga pendaki gunung kebanyakan - adalah sangat berat. Terlebih dikombinasi dengan kegiatan bersepeda, baik sebelum maupun setelah pendakian. Namun ternyata apa yang terjadi? Tujuh Penggowes dan pendaki yang diantaranya sudah "berkepala" 5, sanggup melakukannya!! Luar - luar Biasa!!!

Bromo Trek 5 cm
Hari pertama dimulai dengan unloading dan unpacking perlengkapan sepeda yang kami bawa bersama pesawat Citilink yang terbang dari terminal Halim Perdanakusumah, Jakarta menuju Abdul Rachman Saleh, Malang. Titik awal perjalanan dimulai dari Jemplang dengan tujuan Ranupani.

bongkar tas sepeda untuk memulai perjalanan
Bersepeda di hari pertama dimulai dari Desa Jemplang dengan tujuan Ranu Pane. Jemplang adalah area di sebelah selatan caldera Tengger yang berada sekitar 10 km dari kawah Bromo. Trek dari Jemplang, diawali dengan tanjakan sekitar 2 km dan selebihnya turunan terus hingga sampai di Ranu Pane dengan kondisi jalan beton rusak dan aspal. Sekitar jam 2 siang kami tiba di Ranu Pane dan langsung mengunjungi danau yang ada di sana; Danau Ranu Pane dan Danau Regulo. Kedua danau ini terletak di ketinggia 2.200 m di atas permukaan laut. Dari tempat ini, kita bisa melihat Gunung Semeru berdiri megah dengan kaldera di sekitar kawah.
 
on the way to Ranupane
Resort Ranupani - Pos Pendakian menuju Puncak Semeru (3.676 m)
 
Para peserta SeFo; Ride and Hike berfoto bersama di Jemplang
 
Dalam perjalanan dari Jemplang ke Ranu Pane, dengan latar belakang bukit "Teletubies"

Bersepeda di hari pertama dimulai dari Desa Jemplang dengan tujuan Ranu Pane. Jemplang adalah area di sebelah selatan caldera Tengger yang berada sekitar 10 km dari kawah Bromo. Trek dari Jemplang, diawali dengan tanjakan sekitar 2 km dan selebihnya turunan terus hingga sampai di Ranu Pane dengan kondisi jalan beton rusak dan aspal. Sekitar jam 2 siang kami tiba di Ranu Pane dan langsung mengunjungi danau yang ada di sana; Danau Ranu Pane dan Danau Regulo. Kedua danau ini terletak di ketinggia 2.200 m di atas permukaan laut. Dari tempat ini, kita bisa melihat Gunung Semeru berdiri megah dengan kaldera di sekitar kawah.
Keesokan harinya, kami - yang terdiri dari komunitas gowes BP dan teman-teman lainnya – berjumlah lebih dari 13 orang, melanjutkan perjalanan dengan mendaki ke Danau Ranu Kumbolo, sebuah danau seluas 8 hektar dan terletak di ketinggian 2.390 m di atas permukaan laut. Kami tiba di tempat ini pada pk. 13.00, setelah menempuh sekitar 4,5 jam dari Ranu Pane. Setibanya di Ranu Kumbolo, kami menyaksikan keindahan Danau Ranu Kumbolo, seakan sebuah lukisan magis yang menghipnotis para pendaki yang menyaksikannya.
 
Ina, Read, Didi, Rudy dan Hendra di Ranu Kumbolo
menu makan siang di Ranu Kumbolo membuat segala kepenatan mendadak sirna :) 
 
Ranu Kumbolo nan mempesona

Siang itu, 6 orang dari kami bermalam di Ranu Kumbolo, sementara 7 orang lainnya melanjutkan pendakian ke Kalimati (2.700 m) sebelum kemudian melanjutkan menggapai puncak Mahameru pada diniharinya. Para pendaki yang tergabung dalam Tim Puncak adalah; Muiz, Basrie, Boy, Kresna, Ikhlas, Romy dan Iqbal sudah harus bangun pk. 1 dinihari untuk memulai pendakian ke puncak. Dengan dipandu Mas Sampur yang sudah berkali – kali menemani pendaki ke puncak Mahameru, mereka pada awalnya cukup nyaman mendaki di keheningan malam dengan suhu yang cukup menggigit. Namun setelah sekitar 3 jam mendaki, satu per satu para pendaki yang diantaranya sudah ada beberapa diantaranya yang berusia lebih dari 50 tahun mulai terseok – seok.

Namun dengan tekad yang kuat dan kebersamaan serta semangat pantang mundur dari para pendaki ini lah yang kemudian pada akhirnya mengantar mereka hingga berhasil tiba di puncak Mahameru – puncak tertinggi tanah Jawa – pada sekitar pk. 10.00. Alhamdulillah….akhirnya mereka berhasil!!
 

Iqbal, Ikhlas, Boy dan Romy di puncak Mahameru (3.676 m). Photo by SeFo
 
Minggu, 7 September 2014 merupakan hari terakhir perjalanan kami. Selain 13 orang anggota yang kemarin mendaki Semeru dan mengunjungi Danau Ranu Kumbolo, kami kedatangan tambahan 7 orang peserta, di antaranya Pak Dharmawan (Head of BP Indonesia) dan istri. Ternyata Pak Dhar dan Reny serta beberapa anggota tim lainnya yang datang menyusul pada hari Sabtu dan sudah lebih awal menyusuri Taman “Teletubies” - hamparan padang rumput yang menutupi perbukitan serta lembah di kawasan Bromo seperti karpet hijau yang luas di kaki gunung dan juga trek – trek lainnya di kawasan Tumpang – Bromo.


 


Saturday, August 30, 2014

Gowes Tangerang - Merak

Sabtu, 30 Agt 2014, kami dari berbagai komunitas sepeda berkumpul di Perumahan Banjar Wijaya, Tangerang utk gowes ke Pantai Kelapa Tujuh via Batu Lawang, Bojonegara-Cilegon
8 org dari kami berangkat bersama dari Banjar Wijaya dan kemudian dalam perjalanan, 3 orang lainnya bergabung utk menempuh perjalanan sekitar 110 km. Perjalanan kali ini cukup lengkap, mulai dari on road, puncak bukit Batu Lawang hingga Pantai Kelapa Tujuh, Merak
Perjalanan dimulai pk 6.30 dan baru sampai di Pantai Kelapa Tujuh sekitar pk 19.00, setelah melalui tanjakan cukup tajam di Batu Lawang, dan dilanjutkan turunan makadam di Desa Manglit. Beberapa bulan sblm ini, trek turunan dari Batu Lawang cukup nyaman karena berupa dataran/ trek tanah/ jalan setapak. Namun tampaknya sedang ada pembangunan dan pembuatan jalan beton/ con block. Mungkin baru akan selesai 1 bulan ke depan, gowes turun dari Batu Lawang akan jauh lebih nyaman
Sebelum tiba di Cilegon, kami mampir ke Masjid Agung Banten dan situs Keraton Kaibon, sebuah situs bersejarah namun sayang perawatan dan perhatian masyarakat thd situs ini kurang serius
Kami mencapai Batu Lawang melewatuli rute Kedurung, dengan tanjakan curam dan sempit, bersaing dengan banyaknya motor masyarakat setempat yang naik maupun turun, membuat usaha keras utk mencapai Batu Lawang semakin berat (foto2 oleh Yullian)
 
Menyusuri Pantai Utara 
 
salah satu punggungan menuju Batu Lawang
 
Om Yull tetap ceria dan semangat!!
Om Toto dengan back ground Bojonegara
Om Dedi di situs Keraton Kaibon
 
Makan siang dulu ahh...sebelum genjot lagi ke Masjid Banten Lama
 
 
 
 
 
Sebagian peserta di tikum Cluster Italy, Perum Banjar Wijaya - Tangerang. (foto : Om Budi)
santai dulu di Pecak Bandeng Sawah Luhur
 
hajar bleh..!!
 
ki-ka; Om Ayyub dan saya
 
menu Pecak Bandeng Sawah Luhur
 
Om Sis...terpaksa jatuh bangun menuju Batu Lawang
 
situs Keraton Kaibon
 
Masjid Agung Banten Lama
 
 
Menyusuri situs Keraton Kaibon

Thursday, August 28, 2014

Monday, August 25, 2014

Makanan untuk Pendakian Gunung

Tip Menyiapkan Bekal Untuk Mendaki Gunung

Tip Menyiapkan Bekal Untuk Mendaki Gunung
-
Tak peduli ke mana Anda akan melakukan pendakian gunung, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan ketika memilih makanan yang dibawa. Penulis buku Panduan Teknis Pendakian Gunung dan pentolan komunitas petualang Highcamp, Hendri Agustin, berbagi kiatnya dengan Anda.
  • Tinggi enegri. Kebutuhan energi bisa meningkat hingga 50%dari kondisi normal ketika Anda melakukan pendakian gunung. Jadi, pertimbangkan makanan yang kandungan energinya tinggi. Jika berat atau volume makanan itu kemudian jadi persoalan, coba manfaatkan makanan dengan kepadatan energi yang tinggi seperti cokelat, kacang-kacangan, biskuit, dan lain-lain.
  • Mudah disiapkan. Jika Anda memasak dan hanya punya sedikit waktu serta memiliki bahan bakar, kemampuan, maupun peralatan dapur yang terbatas, Anda perlu membawa bahan makanan yang mudah diolah. Pilih yang di bawah 15 menit.
  • Bobot ringan. Penting bagi Anda untuk selalu membawa makanan Anda sendiri. Jika memungkinkan, pilih tipe dryfood, yang akan meringankan beban Anda.
  • Mudah disimpan. Jangan lupa untuk memilih makanan-makanan yang mudah dikemas dan memiliki masa kadaluarsa yang lama. Simpan makanan Anda dalam kemasan yang rapi, kokoh, namun ringkas. Jika perlu, bagi berdasarkan peruntukkan atau waktu penggunaan. 
  • Bervariasi. Pilih makanan yang sesuai dengan selera Anda atau rekan satu tim. Bagaimana pun, makanan yang Anda pilih tak akan mempunyai nilai tinggi sebelum bisa masuk ke mulut Anda. Pilih juga makanan yang bervariasi hingga Anda tidak mengalami kebosanan saat melakukan pendakian.
  • Sesuaikan isi kantong. Ingat, jangan lebih besar pasak dari tiang. Sesuaikan juga makanan yang akan Anda gunakan dengan anggaran Anda. Jika memungkinkan, cari dukungan dari sponsor. Tentu saja, untuk hal ini Anda harus memberi imbal balik. 
  • Nutrisi seimbang. Pasokan nutrisi yang seimbang akan mempertahankan performa Anda di lapangan, baik secara fisik maupun mental. Dalam perjalanan panjang, pertimbangkan untuk menggunakan multivitamin dan suplemen mineral.
Makan ini! Pakar nutrisi kami, Jansen Ongko, R.D., merekomendasikan agar makanan-makanan di bawah ini masuk ke dalam backpack Anda ketika melakukan hiking.
  • Selai kacang atau kacang-kacangan.
  • Keju, terutama keju asli seperti edam cheese.
  • Protein bar atau snack bar tinggi lemak dan tidak terlalu tinggi gula (snickers bar, dark chocolate).
  • Cracker, rice cake, biskuit.
  • Dried fruit (buah kering) seperti kismis, kurma, aprikot, kiwi, dan lain-lain.
  • Makanan kaleng yang gampang dibuka tanpa menggunakan alat, seperti tuna kalengan.
  • Madu
  • Minuman jahe bubuk instan
dikutip dari Majalah Men'sHealth; http://www.menshealth.co.id/kesehatan/antar.kita/persiapan.fisik.mendaki.gunung/004/004/17
 

Saturday, August 16, 2014

PENDAKIAN PUNCAK MAHAMERU (3.676 m)

Dalam pendakian ke puncak, tantangan terberat justru ketika turun dari puncak. Karena kondisi tubuh sudah mulai lelah dan fokus mulai menurun. Kekurangan asupan makan dan (terutama) air khususnya saat pendakian akan menyebabkan potensi terkena dehidrasi dan mountain sickness (penyakit di ketinggian/ gunung) yg dpt menimbulkan gangguan konsentrasi, kekuatan dan kesehatan 
 
Di Puncak Mahameru (3.676 m); Chieq, Rudi, Sarah dan Riana, 28 Mei 2014. Photo by Galih
 

 Foto bersama di depan Penginapan Pak Tasrip, sebelum memulai pendakian
Pagi itu, Senin, 26 Mei 2014, perjalanan dimulai dari Losmen Pak Tasrip pk 10.15 setelah menyelesaikan urusan administrasi, porter dan logistic yang kesiangan tiba di lokasi. Di perjalanan, kami temui tempat penyewaan perlengkapan pendakian
 
Warung Langit
Tim kami terdiri dari Sarah, Riana, Chieq, Ichien, Anggi, Galih dan saya. Mayoritas adalah anggota Mapala UI (kecuali Galih dan Anggi) yang saat ini sudah berkeluarga dan sudah berusia di atas 40 an tahun. Kebanyakan dari kami,masing - masing sudah dikarunia 2-3 orang anak. Dalam perjalanan ini kami dibantu teman-teman dari Dimpa, Malang
 
 
 

 Jarak tempuh dan waktu yang diperlukan secara umum dalam Pendakian G. Semeru hingga puncaknya, diperlukan waktu 10,5 jam dan dapat dilihat dalam bagan berikut. Namun dari pengalaman saya, waktu tersebut adalah untuk para pendaki yang memang sudah berpengalaman dan memiliki kondisi kebugaran yang prima. Lazimnya bagi pendaki yang juga ingin menikmati pemandangan selama perjalanan, hari pertama bermalam di Ranukumbolo setelah perjalanan 4-5 jam dari Ranu Pane. Dan keesokan harinya dilanjutkan hingga Kalimati atau Arcopodo sebelum pada diniharinya menuju Puncak Mahameru
 
 
Kabut masih menyelimuti Ranupani (2.100 m) ketika kami tiba pk 10.30
 
Tiba di gerbang menuju G. Semeru pk. 10.28
Gunung Semeru atau Sumeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko.
 
Posisi gunung ini terletak di antara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06' LS dan 120°55' BT.
 
Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 m hingga akhir November 1973. Disebelah selatan, kubah ini mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava mengarah ke sisi selatan meliputi daerah Pronojiwo dan Candipuro di Lumajang. (dikutip dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Semeru
 

Pos 1. Landengan Dowo (2.300 m), pk. 11.05
Setelah menempuh jarak 3 km dari Ranupani, kami tiba di Pos 1 Landengan Dowo pada pk. 11.05. Cukup lama kami istirahat di sini, karena beberapa teman sudah cukup lama tidak melakukan aktifitas pendakian gunung. Setelah menyantap beberapa potong coklat dan snack yang kami bawa. Pk. 12.30 baru melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya. Trek yang kami lalui masih relative datar dengan cuaca yang cukup hangat.
 
Di Landengan Dowo ini, kita masih bisa mendapatkan sinyal telepon seluler,
dari berbagai operator ponsel.  
 
Pendakian "selfie" ini - karena lebih  banyak foto-fotonya dibanding jalannya -, dilanjutkankan dengan menempuh jarak 2 km dari Landengan Dowo, sebelum tiba di Pos 2. Watu Rejeng pada pk. 13.20. Normalnya jarak ini dapat ditempuh dalam waktu 30 menit
  
Pos 2. Watu Rejeng (2.350 m). Pk. 13.20
Sebelum tiba di Pos 3, kita akan menemui jembatan "Jembatan Merah", yang posisi dan situasinya menggoda kami untuk berfoto ria 
 
Galih mendadak jadi "mat Kodak"
Setelah kurang lebih 1 jam, sejak pendakian dari Watu Rejeng, kami tiba di Pos 3. Dari sini ujian "sebenarnya" dari perjalanan menuju Ranu Kumbolo baru dimulai, karena akan melewati "Tanjakan Bakri" yang lumayan melelahkan. Kalau di trek sepeda RA/ Golden Mountain, Puncak Pass, mungkin seperti melalui bagian / rute "ngehe 1" :)
  
Pos 3. Pk. 14.23
Pk. 15.00, kami tiba di dataran tertinggi dalam perjalanan dari Pos 3 ke Ranu Kumbolo. Pemandangan indah ini memancing kami yang sudah kesekian kalinya mendaki Semeru untuk kembali tidak bosan-bosannya mengabadikan suasana yang sulit dilewati ini. Terlebih buat  pendaki yang baru pertama kali melihat Ranu Kumbolo, rasanya sulit untuk tidak berlama - lama berfoto ria di sini...  :)
  
Memandang Ranu Kumbolo membuat hati teduh dan terasa damai
 
Indahnya Ranu Kumbolo. Photo by Chieq
 
Ranu Kumbolo (2.400 m). Pk. 16.40
 
Bersama Ichien, salah satu senior pencinta alam Indonesia. Photo by Anggi
 
sunset di Ranu Kumbolo dengan kombinasi tampilan warna merah, biru, orange, jingga dan ungu menampakkan kekuatan "magis" nya.
Perlu waktu 35 menit buat kami untuk mengitari punggungan dari dataran tinggi saat pertama kali memandang Ranu Kumbolo, untuk kemudian tiba di areal danau seluas 15 ha. Kalau ditotal waktu tempuh dari Ranupani sampai ke Ranu Kumbolo, maka kami memerlukan waktu 6 jam 30 menit! :) untuk jarak sekitar 10 km. Dari mulai elevasi 2.100 m hingga 2.400 m.
 
Saat itu, sudah tiba banyak sekali pendaki dari berbagai wilayah Indonesia yang berkumpul di Ranu Kumbolo. Terlebih di minggu itu saat kami mendaki, ada 2 hari libur nasional; Selasa, 27 Mei 2014 sebagai peringatan hari Maulud Nabi Muhammad SAW., dan Kamis, 29 Mei 2014 sebagai hari peringatan Kenaikan Yesus Kristus. Jadi cuti 3  hari bisa dapat libur 9 hari!
 
Sebenarnya kegiatan pendakian Semeru ini "hanyalah" bonus sekaligus memanfatkan "hari libur kejepit nasional". Karena agenda utama adalah menghadiri undangan pernikahan Reyza dan Dian, salah satu rekan yang baru kami kenal setahun lalu
 
Rezya dan Dian dalam resepsi pernikahan Minggu, 25 Mei 2014
 
Seakan "tak mau rugi". Saya dan Galih (rekan kerja di BP Merak), memanfaatkan waktu di Sabtu, 24 Mei 2014 untuk menjajal trek Cangar, Malang. Jadilah perjalanan kami di Mei lalu sebagai "3 in 1"; kondangan, gowes dan naik gunung :)
 
Jadi "4 in 1", sekaligus memperingati 7 tahun usia CBC (Cihuni Bike Community) - kelompok komunitas sepeda Cihuni, Cijantra-Tangerang, sebuah komunitas sepeda yang ada di "belakang" rumah saya
 
Cuaca cerah dan sejuk menyambut kami di dataran tinggi dengan latar belakang daerah/ lokasi wisata legendaris; Selekta, Malang
Galih, melewati teduhnya hutan jati dan pinus di trek Cangar
Lumayan harus gantian dengan sepeda naik orang :)
Ramainya Ranu Kumbolo saat itu selain adanya 2 "harpitnas" juga karena kawaan Taman Nasional Semeru-Bromo, khususnya pendakian Semeru, baru dibuka kembali untuk perawatan dan cuaca / iklim yang kurang "bersahabat" selama lebih dari 3 bulan. Jalur pendakian saat itu mulai dibuka kembali sejak 5 Mei 2014, berbarengan dengan penetapan tarif masuk kawaan TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) yang naik lebih dari 3x lipat! :)
 
Ranu Kumbolo dipadati para pendaki di awal musim
 
Shakira jadi "selebriti" dadakan, diminta foto sama om dan tante di Ranu Kumbolo; 11 Mei 2013
Pengunjung TNBTS harus merogoh dompet lebih dalam untuk bisa memasuki kawasan ini. Jika dulu wisatawan domestik dikenai tarif masuk sebesar Rp 10 ribu, kini naik menjadi Rp 37.500 saat week days. Sementara saat hari libur tiket masuk naik dari Rp 37.500 menjadi Rp 67.500.

Sedangkan untuk wisatawan mancanegara, tarifnya berubah dari Rp 72.500 menjadi Rp 267.500 pada hari kerja. Saat hari libur tarifnya menjadi Rp 640 ribu. Tarif baru menyesuaikan PP Nomor 12 Tahun 2014 tentang Jenis dan Tarif Atas Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Sektor Kehutanan.

 
Kawasan TNBTS. photo by Antara
 
Berikut Peta Wisata dan Jalur Pendakian yang dikutip dari situs TNBTS;

 

Setelah bermalam di kesyahduan Ranu Kumbolo, esok harinya kami berangkat menuju Kalimati pk. 08.15 dengan melalui "Tanjakan Cinta". Tanjakan cukup untuk pemanasan di awal perjalanan. Konon diceritakan apabila sepasang kekasih dapat melalui Tanjakan Cinta ini tanpa menatap ke belakang, maka hubungan pasangan tersebut akan abadi....  :) Cerita ini semakin popuer dengan adanya sinema "5 cm" lalu. Saya pun menemui beberapa pasang muda-mudi yang mendaki Tanjakan Cinta ini dengan bergandengan tangan dan berusaha untuk tidak menatap ke belakang. Gimana menatap ke belakang, kalau sedang "ngos-ngosan"gitu?  :)

Berpose di atas Tanjakan Cinta dengan latar belakang Ranu Kumbolo. Pk. 08.38
 
Hamparan bunga Lavender di Oro Oro Ombo, akan kita temui setelah melewati Tanjakan Cinta. Oro Oro Ombo berada pada ketinggian 2.500 m.
 
Cemoro Kandang (2.500 m). Pk. 09.47 dicapai setelah Tanjakan Cinta dan berfoto-foto sekitar 30 menit di hamparan bunga lavender Oro Oro Ombo. Jarak dari Ranu Kumbolo ke Cemoro Kandang, kurang lebih dapat ditempuh setelah melalui 2,5 km perjalanan.
 
Kalau dihadapkan dengan situasi dan alam yang asri, sepertinya rasa lelah selama perjalanan, langsung hilang, berganti dengan keceriaan dan kembali..... foto-foto  :)
 
Trek menuju Kalimati cukup datar, melewati hutan pinus dan savanna. Cuaca masih hangat dan matahari saat itu cukup terik
 
Jambangan (2.600 m). Pk. 11.29. Ditempuh dalam jarak 3 km dari Cemoro Kandang
 
Setelah sejenak melalui Jambangan, pada pk. 11.32 barulah kami dapat kembali menatap keanggunan puncak Mahameru
 
Kalimati (2.700 m). Pk. 11.58
 
Cuaca  masih terus hangat dan bersahabat, mengiringi perjalanan kami menuju Kalimati. Menjalang tengah hari, kami tiba di lokasi yang banyak dijadikan para pendaki untuk beristirahat sebelum dini harinya melakukan pendakian ke puncak Mahameru. Tempat ini berupa padang rumput luas yang dikelilingi dengan hutan pinus. Terdapat sumbber  mata air di tempat ini, namun lokasi cukup jauh, menyusuri Kalimati dan paling tidak memerlukan waktu 1 jam pp utk mendapatkan air dari mata air di sini.
 
Cukup jauhnya lokasi sumber mata air satu-satunya sebelum ke puncak ini, menimbulkan ide bisnis dari masyarakat setempat dengan menjual air dalam kemasan botol air mineral, yang dihargai Rp 10.000,- per botol :)
 
Cukup lama kami menghabiskan waktu di sini. Mulai dari makan siang, bobo-bobo siang dan pastinya "sedikit" foto-foto :) Baru pk. 14.30 kami melanjutkan perjalanan ke Arcopodo.
Perjalanan menuju Arcopodo dari Kalimati
Pendakian ke puncak perlu didampingi leader/ guide dan porter atau pendaki yg berpengalaman mendaki puncak Semeru dan memahami kondisi terkini. Trek dari Kalimati ke puncak lumayan berat, ditambah rute/ trek menuju Arcopodo sdh berubah/ rusak/ putus dan berpotensi salah ambil jalur. Terutama krn pendakian ke puncak dilakukan dini hari dg visibiliti dan jarak pandang terbatas. Trek ke puncak berupa kerikil dan pasir dengan elevasi antara 30-40 derajat. Sehingga dibutuhkan kekuatan, daya tahan dan kesabaran saat menambah ketinggian. Seringkali melangkah utkmendaki 2 langkah, tp mundur (turun) 1 langkah :)

Dalam pendakian ke puncak, tantangan terberat justru ketika turun dari puncak. Karena kondisi tubuh sudah mulai lelah, fokus mulai menurun. Di sisi lain trek turun (di area sekitar Cemara Tunggal dulu) sdh tdk terlihat tanda2 trek yg jelas dan berpotensi salah ambil jalur/ nyasar. Tour Leader/ guide/ porter dan strategi berjalan/ mendaki secara kelompok diyakini bisa meminimalisir potensi salah jalur dan bs saling mengingatkan/ membantu.

Disarankan utk membawa water bladder dan minum air putih yg cukup (min 1,5 ltr) saat ke puncak, krn dlm cuaca dingin cenderung tdk punya hasrat utk minum, sementara tubuh butuh minimal 1,5 - 2 liter sehari, terlebih utk aktifitas berat. Kekurangan asupan makan dan (terutama) air khususnya saat pendakian akan menyebabkan potensi terkena dehidrasi dan mountain sickness (penyakit di ketinggian/ gunung) yg dpt menimbulkan gangguan konsentrasi, kekuatan dan kesehatan

Usaha kembali ke trek Arcopodo - Kelik yang punggungannya sudah terputus
 
Bersama keluarga di Arcopodo (2.900 m) Gn. Semeru 8-12 Mei 2013; Yenny, Cinta (5 th), Najma (10 th) dan Shakira (3 th). Keceriaan ini bisa berubah bencana apabila perjalanan tidak dipersiapkan dengan baik
Pada pendakian Mei 2014 lalu, kami tiba di daerah sedikit di atas Arcopodo pada pk. 17.30 setelah melewati jalan memutari Arcopodo, karena trek awal ke Arcopodo sudah putus dan terpaksa "salah jalan" dan melewati tebing / jurang yang cukup terjal... Lumayan buat hati deg..deg an, bawa 3 istri orang :). Dalam hati, gimana pertanggung jawaban ke suami mereka nih, kalau "salah jalan" nya keterusan? :) Masih untung porter - porter kami menjemput dan membantu kami menaiki tebing yang cukup aduhay :)
 
Untuk mengantisipasi padatnya trek menuju puncak karena banyaknya para pendaki saat itu, kami memutuskan untuk bermalam dan "colong start) dari Kelik, daerah sedikit di atas Arcopodo. Kami memulai pendakian pada pk. 00.00 tepat saat "Cinderella" keluar dari kamarnya :) . Termasuk antisipasi kekuatan dan kecepatan langkah teman-teman yang sudah "brojol" 2 kali itu, ditambah usia yang sudah memulai (melampaui)  masa kehidupan (live begin at forty) :)
 
Trek pasir / kerikil menuju puncak Mahameru
 
Alhamdulillah, akhirnya semua anggota tim tiba di puncak Mahameru pada sekitar pk. 07.00 setelah berjuang selama 7 jam, dari Kelik / Arcopodo!
 
Di puncak Mahameru (3.676 m); Sarah, Chieq, Riana dan Galih
========================================================================
 
Najma (10 th), anak pertama saya di Puncak Mahameru pada 10 Mei 2013
 
Yenny, ibunya anak-anak di Puncak Mahameru pada 10 Mei 2013
 
Cinta (5 th) dalam upayanya menuju puncak dengan bantuan porter :)
Bersama Shakira (3 th) di Kalimati, setelah turun dari puncak tanggal 10 Mei 2013. Photo by Endah
 
 
=========================================================================
 
Equipment Check-List
GENERAL CHECKLIST
- Fleece jacket or pullover
- Waterproof shell jacket (preferably breathable fabric)
- Lightweight thermal gloves
- Underwear (4)
- Shorts (2)
- Lightweight cotton long trousers/pants
- Light and expedition weight thermal bottoms
- Sun hat or scarf
- Warm fleece hat or light balaclava
- T-shirts (2)
- Thin, lightweight (inner socks) (4)  
- Sunglasses with UV protection
- Sleeping bag rated to 0 degrees (3/4 season) : recommend to bring by your own
- Head lamp (eg Petzl) spare bulbs & batteries
- Basic First Aid Kit (see First Aid Medicine below)
- Plastic bags - for keeping items dry inside trek bag
- Daypack (35-40 litres/2500-3000 cubic inches)
- Water bottles (for minimum 1.000 ml)
- Toiletries and trash bag
- Small wash towel
- Footwear appropriate to the trip
- Waterproof shell trousers/pants (preferably breathable fabric)
TREKKING CHECKLIST
In addition to the items listed in our general checklist you will need to take the following on your trekking trip:
- Heavyweight gloves or mittens with a waterproof shell outer
- Down vest and/or jacket (optional)
- Fleece or wool trousers/pants
- Trekking/Hiking boots with spare laces
- Thick, warm wool hiking socks (4)
- Footwear for around camp, eg running shoes and/or sandals
- Gaiters
- Telescopic trekking/ski poles (optional)
 
TOILETRIES
- 1 medium sized quick drying towel
- Toothbrush/paste (preferably biodegradable)
- Multipurpose soap (preferably biodegradable)
- Deodorant
- Nail clippers
- Face and body moisturizer
- Feminine hygiene products
- Small mirror


Makanan untuk Pendakian Gunung;
 https://rudi-nurcahyo.blogspot.com/b/post-preview?token=AMDhF0gBAAA.SNmg4nbz03drcfc0DQGXsw.IMRHG8jc73vFN-qcbLDtEA&postId=3569125261059180233&type=POST#!/2014/08/makanan-untuk-pendakian-gunung.html