Tuesday, September 17, 2019

Mandalawangi - Pangrango, kami datang....

taken on Sept 15, 2019
MANDALAWANGI - PANGRANGO
Senja ini, ketika matahari turun
Ke dalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
Dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah”

Dan antara ransel-ransel kosong
Dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu

Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

Djakarta 19-7-1966
Soe Hok Gie

Sunday, August 18, 2019

Yakin lo? Yuk nanjak!


Kata – kata dari Edward Whymper –seorang pendaki asal Inggis- yang berhasil menjadi orang pertama mencapai puncak Matternhorn (4.478 m) di perbatasan Swiss dan Itali, cukup pantas menggambarkan perbedaan pemahaman kata – kata bijaknya; “Climb if you will, but remember that courage and strength are nought without prudence, and that a momentary negligence may destroy the happiness of a lifetime. Do nothing in haste; look well to each step; and from the beginning think what may be the end”, antara pendaki amatir / muda dan minim pengalaman, dengan pendaki yang sudah melanglang – buana.
             Bagi saya yang tahun 1992 baru pertama kali ke luar negeri untuk mendaki gunung, yang ada di pikiran hanyalah happiness. Senang memulainya tapi lupa mempersiapkan bagaimana dan apa yang mungkin terjadi pada akhirnya nanti dari sebuah keputusan, dari sebuah perjalanan, dari sebuah pengalaman baru mendaki gunung es tertinggi di benua Amerika Selatan! Aconcagua (6.962 m).
             Setelah persiapan yang lumayan panjang dan berbelit – belit terutama urusan administrasi dan hal klasik; pencarian dana untuk ekspedisi, akhirnya saya termasuk orang yang beruntung terpilih sebagai anggota Tim Ekspedisi Aconcagua – Mapala UI tahun 1992. Dari lebih dari 10 orang calon pendaki, akhirnya diputuskan untuk memberangkatkan 5 orang pendaki dari Mapala UI, yang komposisinya terdiri dari 2 senior; Norman Edwin dan Didiek Samsu, serta 3 orang junior; Fayez, Dian –satu – satunya perempuan di tim- dan saya. Senang dan bangga rasanya bisa menjadi bagian kecil dari sebuah organisasi Pencinta Alam Mapala UI yang saat itu tengah menjajaki puncak ke 5 dari proyek Seven Summit nya; Aconcagua (6.962 m) di Argentina.
             Penerbangan ke Santiago rasanya gak sampe-sampe. Setelah lebih dari 22 jam dari Jakarta, transit di Denpasar, Biak dan Hawaii (AS), baru akhirnya mendarat dan singgah di Los Angeles untuk keesokan harinya meneruskan penerbangan dengan menggunakan American Airlines dan transit di Miami sebelum finally......  tiba di Santiago, Chile. Membayangkan suasana 27 tahun lalu itu saya jadi inget lagunya almarhum Mbah Surip; “Bangun tidur, tidur lagi.., bangun lagi, tidur lagi. Bangun..., tidur lagi”. Semua gaya tidur udah dicoba, dari mulai nyender, miring kanan, miring kiri, nekuk, sampai mati gaya lah, istilah sekarang. Yang awalnya norak naik pesawat terbang, sampai mulai muncul benci dan bosan naik pesawat terbang, karena gak nyampe-nyampe. Sempet kepikiran juga, jangan2 si Mr Baracus yg takut naik pesawat, jangan2 juga karena kecapekan di atas pesawat? Bukan karena sekedar takut? :)


kisah selanjutnya, nantikan di buku "Dari Tangan Pertama", sebuah buku kompilasi cerita perjalanan dari banyak petualang Indonesia yang akan segera terbit..

Tangerang, 22 Juli 2019

Saturday, May 18, 2019

"DO FUN AT DUFAN!"

RECOUNT TEXT



" DO FUN AT DUFAN! "


Last week, me and my family went to Dufan.
As usually i waked up at 6 AM and went to Dufan at 7 AM.
We went to Dufan with my uncle's car.
We are arrived at 8 AM.
It doesnt take a long time for us to arrived.
Because my home is in Serpong,Tangerang and Dufan is only 20 miles away from my house.

We were eat breakfast on KFC near Dufan and then we were rent bicycles for an hour.
And then at 10 AM, Dufan finally opened.
We finally regist to go inside.

I played a lot of rides at that playing centre.
Such as, Halilintar,and then kora-kora.
Kicir-kicir,and then i went to Istana Boneka with my little sisters.
And then i went to Histeria with my dad, Tornado with my uncle and Arung Jeram with my mom.
And after that, we were having a lunch at Baso A Fung.

And then after having a lunch and take a 30 minutes break,
we were having more rides.

Such as, Bianglala, Niagara-gara and then Turangga-rangga.
And then, on 4 PM we were watching a Fantastic Show near Kora-Kora rides.
On 5 PM, we were watching some Carnaval around Dufan's Theme Park.
After that, we were playing Bom-Bom Car and take a rest for a minutes.

And then, we were watching some live music.
And on 8 PM, we were going home and have a dinner at Bakmi GM at the Shopping Centre near Dufan.
On 10 PM, we were finally go home.





By: Najma Qomolungma
Class: X IPS V