Kata
– kata dari Edward Whymper –seorang pendaki asal Inggis- yang berhasil menjadi
orang pertama mencapai puncak Matternhorn (4.478 m) di perbatasan Swiss dan
Itali, cukup pantas menggambarkan perbedaan pemahaman kata – kata bijaknya; “Climb if you will, but remember that
courage and strength are nought without prudence, and that a momentary
negligence may destroy the happiness of a lifetime. Do nothing in haste; look
well to each step; and from the beginning think what may be the end”, antara
pendaki amatir / muda dan minim pengalaman, dengan pendaki yang sudah
melanglang – buana.
Bagi saya yang tahun 1992 baru
pertama kali ke luar negeri untuk mendaki gunung, yang ada di pikiran hanyalah happiness. Senang memulainya tapi lupa
mempersiapkan bagaimana dan apa yang mungkin terjadi pada akhirnya nanti dari
sebuah keputusan, dari sebuah perjalanan, dari sebuah pengalaman baru mendaki
gunung es tertinggi di benua Amerika Selatan! Aconcagua (6.962 m).
Setelah persiapan yang lumayan
panjang dan berbelit – belit terutama urusan administrasi dan hal klasik;
pencarian dana untuk ekspedisi, akhirnya saya termasuk orang yang beruntung
terpilih sebagai anggota Tim Ekspedisi Aconcagua – Mapala UI tahun 1992. Dari
lebih dari 10 orang calon pendaki, akhirnya diputuskan untuk memberangkatkan 5
orang pendaki dari Mapala UI, yang komposisinya terdiri dari 2 senior; Norman
Edwin dan Didiek Samsu, serta 3 orang junior; Fayez, Dian –satu – satunya
perempuan di tim- dan saya. Senang dan bangga rasanya bisa menjadi bagian kecil
dari sebuah organisasi Pencinta Alam Mapala UI yang saat itu tengah menjajaki
puncak ke 5 dari proyek Seven Summit nya; Aconcagua (6.962 m) di Argentina.
Penerbangan ke Santiago rasanya gak sampe-sampe. Setelah lebih dari 22 jam dari Jakarta, transit di Denpasar, Biak dan Hawaii (AS), baru
akhirnya mendarat dan singgah di Los Angeles untuk keesokan harinya meneruskan
penerbangan dengan menggunakan American Airlines dan transit di Miami sebelum finally...... tiba di Santiago, Chile. Membayangkan suasana 27 tahun lalu itu saya
jadi inget lagunya almarhum Mbah Surip; “Bangun
tidur, tidur lagi.., bangun lagi, tidur lagi. Bangun..., tidur lagi”. Semua
gaya tidur udah dicoba, dari mulai nyender,
miring kanan, miring kiri, nekuk,
sampai mati gaya lah, istilah
sekarang. Yang awalnya norak naik
pesawat terbang, sampai mulai muncul benci dan bosan naik pesawat terbang,
karena gak nyampe-nyampe. Sempet kepikiran juga, jangan2 si Mr Baracus yg takut naik pesawat, jangan2 juga karena kecapekan di atas pesawat? Bukan karena sekedar takut? :)
kisah selanjutnya, nantikan di buku "Dari Tangan Pertama", sebuah buku kompilasi cerita perjalanan dari banyak petualang Indonesia yang akan segera terbit..
Tangerang, 22
Juli 2019

No comments:
Post a Comment